Blacy Smiley - Yikes My Digital Blog: 2014

Kamis, 10 April 2014

Curamku Menuju Puncak



Minggu, 6 april 2014 | 08.37
Curamku Menuju Puncak – Taufik Akbar

Hari-hari kujalani
Menambah percikan noda
Noda hitam dikertas buram
Buram bagaikan jalanan berkabut

Semua serasa semakin singkat
Tak terasa hadirnya penat
Aku melesat kencang tanpa arah
Tak sadar telah bercucuran darah

Canda, tawa, duka, luka
Dari terangnya timur
Hingga gelapnya barat
Kusantap lezat setiap saat

Hingga akhirnya aku tersadar
Sadar matahari semakin terang
Hari menjelang siang
Terasa semua semakin pudar

Kumulai hari ini dengan hal buruk
Matahari menyinari tubuh yang lapuk
Tapi aku masih dapat berdiri
Membuka mata merajut mimpi

Aku masih dapat berjalan
Tanpa alas kaki kerikil semakin tajam
Diterjang derasnya arus sungai
Aku kan tetap berjalan, tak menjadi bangkai

Jalan masih terasa berkabut
Aku bisa terus bertahan
Pedang menusuk-pun akan kucabut
Aku akar bukan dahan

Hari semakin terik
Kupercepat langkah kakiku
Tanpa rasa ragu
Semua musuh akan kucekik

Hingga kuraih segalanya
Terus berlari tanpa henti
Tengah hari telah datang
Aku sudah menjadi manusia seutuhnya

Selasa, 21 Januari 2014

Pelajaran Masa Lalu – Taufik Akbar

Rabu, 22 Januari 2014 | 02.33
Pelajaran Masa Lalu – Taufik Akbar

Malam yang tenang
Ditemani layar bersinar
Tak lupa seratus empat tombolnya
Dan perangkat lainnya
Koneksi melesat bagai kilat
Keatas menembus langit
Menuju benda dingin yang memonitor segalanya

Lembaran kertas terasa semakin kuno
Sang suryapun dapat terlihat dengan mudah
Berkat dasar penemuan Michael Faraday
Lalu dipadukan dengan penemuan Charles Babbage

Dalam benak aku bertanya
Apakah dunia sama dengan manusia?
Masa kecil seolah terulang
Pada segala kronologi dimasa tua

Jika benar apa adanya
Inikah masa dewasa tempat kita berpijak?
Atau mungkin meranjak tua?
Tragedi lalu seolah terulang
Hanya waktu yang membedakan
Juga pemeran tapi tetap cerita lama

Apalah arti kata “moderen”
Apa arti sebuah perjalanan IPTEK
Nyatanya pandangan tetap kuno
Emosional dan individualis kembali menyatu
Peperangan mulai populer kembali
Yang membedakan hanya media dan senjata

Terasa bangsa ini mulai terpecah kembali
Segala masuk dalam raga ini
Akibat sifat konsumtif
Tanpa filter yang dipasang pada pintu masuk

Mungkin politik isolasi terasa lebih mulia
Dibanding perjuangan Bung Karno sia-sia
Terulang seperti masa Patih Gajah Mada
Semua kembali terpecah belah
Bedanya hanyalah sebab
Tetap sama pada akibat

Bersatulah para penerus bangsa
Kritis tetap menggunakan nurani
Kita sadari dunia semakin tua
Jangan biarkan semua hilang hanya mimpi

Indonesia-ku, kami bersatu untukmu