Kesabaran Yang Berbuah Kekuatan
Nama saya Fikri,
berasal dari keluarga yang sederhana tapi tetap bahagia. Ayah saya adalah
seorang pegawai swasta yang menjadi motivator besar dalam menjalani hidup ini,
seseorang yang berpengaruh besar terhadap perubahan ke arah yang lebih baik,
dan sosok yang membuat saya iri ingin melampaui beliau. saya bukan anak yang
berbakti pada orang tua, tetapi yang luar biasanya saya memiliki sesosok ayah
yang begitu besar kesabarannya dan dapat selalu tenang dalam menghadapi suatu
permasalahan, dengan hal luar biasa lainnya.
Pada saat SMP, saya
adalah seorang remaja yang nakal karena kecanduan dengan game online (kayaknya
udah ga asing dikalangan remaja jaman sekarang). Pernah berhari-hari saya ga pulang
dan ga ngasih kabar sama sekali ke orang di rumah. Sampai suatu saat saya
kehabisan uang untuk bayar billing (entah kerasukan apa gw waktu itu) karena saya
tau ibu nyimpen uang di laci kamar, otomatis otak saya larinya kesana. maka
lenyaplah uang yang nominalnya lumayan besar. Ibu sudah curiga kalau saya yang mengambil
uangnya dan menanya dengan nada ngomel (saya atau bukan yang mengambil), tapi
tetap saya tidak mengakui kalau saya yang mengambil uangnya. (Nah, respon ayah
gw gimana?) Ayah masih tetep percaya kalau saya tidak bohong.
Ayah saya tidak terlalu
mempermasalahkan saya pulang atau tidak, yang saya selalu ingat adalah kalimat
ini “Mau gapulang-pun gamasalah, yang penting tetep shalat, jujur, dan nilai ga
turun” oleh karena itu beliau percaya akan apa yang saya katakana (bahwa saya
jujur). Yang saya fikirkan saat itu adalah “babeh gw aja kaga ngomel, so
santailah”.
Beberapa hari setelah
kejadian itu dengan rutinitas saya (game online) dan tetap mengambil uang
setiap ingin ke warnet, ada seorang teman yang bertanya “lu kaga diomelin apa
tiap hari kewarnet sampe ga balik gini?” lalu saya jawab “orang tua yang ga
waras mungkin kalo anaknya pergi tanpa kabar terus kaga ngomel”. (lah, apa ayah
saya ga waras?) Tentu tidak, tetap pada kalimat yang pernah beliau katakan “Mau
gapulang-pun gamasalah, yang penting tetep shalat, jujur, dan nilai ga turun”.
Begitu besarnya kepercayaan yang beliau berikan, tapi apa balasan dari saya?
APA? Saya tidak jujur dan shalat-pun tertinggal (kalo masalah nilai
Alhamdulillah lancar bro).
Dan karena seringnya
kehilangan uang, sampai pada saatnya kalimat pepatah ini berlaku “Kesabaran
pasti ada batasnya” Ayah saya mulai mengekspresikan emosinya. Tapi yang
mengejutkan yaitu bukan saya yang disalahkan atas kehilangan uang itu, tapi
beliau malah mengira bahwa ibu saya yang mengambil dan memakainya. Sungguh
besarnya kesalahan yang saya buat pada saat itu, setelah itu saya mulai
menyadari bahwa perbuatan itu tidak berguna untuk masa depan dan begitu besar
dosa yang saya peroleh. Tibalah kalimat ini berlaku “Penyesalan selalu datang
di akhir”.
Beberapa hari setelah
kejadian itu ayah menanyakan pada saya dengan nada bicara biasa “fik, apa bener
kamu yang ngambil uang itu?” lalu saya jawab “Iya pa, aku yang ngambil” lalu
dilanjutkan oleh perbincangan yang masih berhubungan dan diakhiri oleh kalimat
“Kalo kamu butuh uang bilang aja jangan malah ngambil diem-diem gini, kasian
mamamu tiap hari kuatir”. Tidak saya sangka dengan perbuatan yang selama ini
saya lakukan tapi respon beliau tidak ada negatifnya sedikit-pun, dengan nada
yang tetap seperti berbincang biasa. Beliau membangun diri ini, bukan mencari
kesalahannya.
Setelah semua berlalu saya
baru menyadari jika kita shalat wajib lima waktu ditambah dengan sunahnya
insyaallah kita akan selalu jujur. Dan jika kita selalu jujur insyaallah kita
selalu ditunjukan jalan yang sebenarnya, karena Allah melindungi orang-orang
jujur. Dan jika kedua hal itu sudah dilakukan, insyaallah nilai akan stabil
atau selalu naik. Saya baru mengerti apa maksud dari kalimat yang pernah ayah
ucapkan. Dan setelah saya masuk SMA dengan teman dan lingkungan baru, saya
sering mencari Motivator ternama, agar hidup ini lebih berarti dan meningkatkan
semangat saya. Ternyata saya salah, karena mencari yang jauh dan ternama.
Sedangkan yang dekat-pun dan telah terbukti pengaruhnya (Ayah) belum saya
contoh secara penuh terutama pada kesabarannya.
Nilai Moral “Pemupukan yang teratur dan baik akan menghasilkan buah yang
manis”
Nama saya Taufik Akbar
lahir di Bogor pada tanggal 12 september 1996. Alamat saya di Desa Tegal Waru
Rt/Rw 01/02 No.15 Kec. Ciampea, Kabupaten Bogor. Saya dapat dihubungi melalui
Email t_takbar@rocketmail.com, nama akun FB saya Taufik Akbar atau bisa
dikunjungi melalui alamat http://www.facebook.com/takbarable, atau dapat dihubungi melalui nomor
085779491095.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar