Blacy Smiley - Yikes My Digital Blog: Kesabaran Yang Berbuah Kekuatan "ayah"

Jumat, 02 Agustus 2013

Kesabaran Yang Berbuah Kekuatan "ayah"


Kesabaran Yang Berbuah Kekuatan

            Nama saya Fikri, berasal dari keluarga yang sederhana tapi tetap bahagia. Ayah saya adalah seorang pegawai swasta yang menjadi motivator besar dalam menjalani hidup ini, seseorang yang berpengaruh besar terhadap perubahan ke arah yang lebih baik, dan sosok yang membuat saya iri ingin melampaui beliau. saya bukan anak yang berbakti pada orang tua, tetapi yang luar biasanya saya memiliki sesosok ayah yang begitu besar kesabarannya dan dapat selalu tenang dalam menghadapi suatu permasalahan, dengan hal luar biasa lainnya.
            Pada saat SMP, saya adalah seorang remaja yang nakal karena kecanduan dengan game online (kayaknya udah ga asing dikalangan remaja jaman sekarang). Pernah berhari-hari saya ga pulang dan ga ngasih kabar sama sekali ke orang di rumah. Sampai suatu saat saya kehabisan uang untuk bayar billing (entah kerasukan apa gw waktu itu) karena saya tau ibu nyimpen uang di laci kamar, otomatis otak saya larinya kesana. maka lenyaplah uang yang nominalnya lumayan besar. Ibu sudah curiga kalau saya yang mengambil uangnya dan menanya dengan nada ngomel (saya atau bukan yang mengambil), tapi tetap saya tidak mengakui kalau saya yang mengambil uangnya. (Nah, respon ayah gw gimana?) Ayah masih tetep percaya kalau saya tidak bohong.
            Ayah saya tidak terlalu mempermasalahkan saya pulang atau tidak, yang saya selalu ingat adalah kalimat ini “Mau gapulang-pun gamasalah, yang penting tetep shalat, jujur, dan nilai ga turun” oleh karena itu beliau percaya akan apa yang saya katakana (bahwa saya jujur). Yang saya fikirkan saat itu adalah “babeh gw aja kaga ngomel, so santailah”.
            Beberapa hari setelah kejadian itu dengan rutinitas saya (game online) dan tetap mengambil uang setiap ingin ke warnet, ada seorang teman yang bertanya “lu kaga diomelin apa tiap hari kewarnet sampe ga balik gini?” lalu saya jawab “orang tua yang ga waras mungkin kalo anaknya pergi tanpa kabar terus kaga ngomel”. (lah, apa ayah saya ga waras?) Tentu tidak, tetap pada kalimat yang pernah beliau katakan “Mau gapulang-pun gamasalah, yang penting tetep shalat, jujur, dan nilai ga turun”. Begitu besarnya kepercayaan yang beliau berikan, tapi apa balasan dari saya? APA? Saya tidak jujur dan shalat-pun tertinggal (kalo masalah nilai Alhamdulillah lancar bro).
            Dan karena seringnya kehilangan uang, sampai pada saatnya kalimat pepatah ini berlaku “Kesabaran pasti ada batasnya” Ayah saya mulai mengekspresikan emosinya. Tapi yang mengejutkan yaitu bukan saya yang disalahkan atas kehilangan uang itu, tapi beliau malah mengira bahwa ibu saya yang mengambil dan memakainya. Sungguh besarnya kesalahan yang saya buat pada saat itu, setelah itu saya mulai menyadari bahwa perbuatan itu tidak berguna untuk masa depan dan begitu besar dosa yang saya peroleh. Tibalah kalimat ini berlaku “Penyesalan selalu datang di akhir”.
            Beberapa hari setelah kejadian itu ayah menanyakan pada saya dengan nada bicara biasa “fik, apa bener kamu yang ngambil uang itu?” lalu saya jawab “Iya pa, aku yang ngambil” lalu dilanjutkan oleh perbincangan yang masih berhubungan dan diakhiri oleh kalimat “Kalo kamu butuh uang bilang aja jangan malah ngambil diem-diem gini, kasian mamamu tiap hari kuatir”. Tidak saya sangka dengan perbuatan yang selama ini saya lakukan tapi respon beliau tidak ada negatifnya sedikit-pun, dengan nada yang tetap seperti berbincang biasa. Beliau membangun diri ini, bukan mencari kesalahannya.
            Setelah semua berlalu saya baru menyadari jika kita shalat wajib lima waktu ditambah dengan sunahnya insyaallah kita akan selalu jujur. Dan jika kita selalu jujur insyaallah kita selalu ditunjukan jalan yang sebenarnya, karena Allah melindungi orang-orang jujur. Dan jika kedua hal itu sudah dilakukan, insyaallah nilai akan stabil atau selalu naik. Saya baru mengerti apa maksud dari kalimat yang pernah ayah ucapkan. Dan setelah saya masuk SMA dengan teman dan lingkungan baru, saya sering mencari Motivator ternama, agar hidup ini lebih berarti dan meningkatkan semangat saya. Ternyata saya salah, karena mencari yang jauh dan ternama. Sedangkan yang dekat-pun dan telah terbukti pengaruhnya (Ayah) belum saya contoh secara penuh terutama pada kesabarannya.

Nilai Moral “Pemupukan yang teratur dan baik akan menghasilkan buah yang manis”


            Nama saya Taufik Akbar lahir di Bogor pada tanggal 12 september 1996. Alamat saya di Desa Tegal Waru Rt/Rw 01/02 No.15 Kec. Ciampea, Kabupaten Bogor. Saya dapat dihubungi melalui Email t_takbar@rocketmail.com, nama akun FB saya Taufik Akbar atau bisa dikunjungi melalui alamat http://www.facebook.com/takbarable, atau dapat dihubungi melalui nomor 085779491095.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar